MENU

Cerpen 2



LARAS SI PEJUANG CILIK
(Oleh : Purwa Kinanti)

          Siang nan terik, angin terasa begitu kering dan panas mentari terasa menyengat kulit.  Seperti biasa Fenita pulang sekolah berjalan kaki. Sepanjang jalan pulang terhampar padi yang mulai menguning. Kampung tempat tinggalku memang agak jauh dari jalan umum. Dusun Cikarang namanya. Dusun kecil yang terletak di pinggiran perkebunan karet.
Aku berhenti sejenak di bawah pohon randu di pinggir jalan.
“Ah...lumayanlah, bisa menikmati teduhnya pohon randu ini” gumanku sambil menghela nafas. Di kejauhan ku lihat sosok gadis kecil berjalan ke arahku. Gadis cilik yang memakai seragam putih merah itu menenteng termos es dan baki di tangannya. Dan tas hitam yang sudah kusam bergantung dipunggungnya.Tak lama dia sudah sampai ditempat aku berdiri.
“Assalamu’alaikum mbak Fe”, dia menyapaku.
“Wa’alaikum salam, kok sampai jam segini baru pulang Ras”, jawabku balik bertanya.
“Iya mbak, tadi menghabiskan dagangan di perumahan dekat sekolah terlebih dahulu” Jawab Laras.
“Ooh gitu ya...” jawabku lagi.
“yuk lanjutin jalan, sini biar aku bawakan bakinya”. Ajakku sambil menawarkan bantuan padanya.
“ Nggak usah mbak, terima kasih, ini sudah kosong, enteng kok mbak” Ia menolak dengan halus.
Diam-diam aku memandangi Laras dari belakang. Sungguh aku begitu mengagumi sosok gadis cilik ini. Kulitnya coklat kehitaman, rambutnya agak kemerahan diikat dengan karet gelang, ia tampak begitu tegar menghadapi hidupnya. Tak pernah terlontar keluhan dari bibirnya yang mungil. Dia harus berjuang membantu ibunya mencari uang untuk kehidupan sehari-hari. Bapaknya sudah meninggal karena sakit dua tahun yang lalu. Setiap hari dia pergi ke sekolah sambil berjualan es buah dan makanan ringan.
Aku jadi malu sendiri melihat ketegaran bocah ini. Aku yang sudah pelajar SMA masih sering mengeluh, hanya karena jalan kaki kepanasan. Padahal aku tidak membawa beban apa-apa. Aku yang tiap pagi dikasih uang sakku sama ibu, kadang-kadang masih minta ini dan itu. Aku masih punya dua orangtua yang menyayangiku, sedang Laras....
“Yaa Allah, ampunilah aku yang sering membuat sedih kedua orangtuaku”, do’aku dalam hati.
Tak terasa sudah sampai depan rumahku. Lamunankupun buyar.
“Ras, mampir ke rumah mabak Fe, yuuk”. Ajakku pada si Laras.
“Yaa, makasih mbak, sudah hamper sore, Laras harus mbantuin ibu membungkus es buah, Mbak Fe, kapan-kapan ajari Laras bikin puisi ya”, pinta Laras padaku.
“Iya , datang aja ke rumah”.
Ia melanjutka jalan dan aku masuk rumah.
“Assalamu’alaikum”, aku mengucap salam dan memasuki rumah.
 “wa’alaikum salam” ibuku menjawab sambil muncul dari belakang.
Aku menyalami dan mencium tangan ibuku.
“Sama siapa tadi Fe?” Tanya ibu.
“Sama Laras bu, hebat sekali anak itu”.
“Iya, Bi Ruminah beruntung sekali punya anak yang rajin dan ta’at kaya Laras” tungkas ibu. “Ya sudah, kamu sholat, makan terus istirahat dulu ya”.  Akupun bergegas ganti baju dan segera ambil air wudlu.
Sore hari, habis sholat magrib berjama’ah aku buru-buru masuk kamar. Ibu mengikutiku di belakang.
“Ada apa Fe, kenapa buru-buru?” Tanya ibu padaku.
 “Aku mau belajar nulis cerita ibu, Perpusda kabupaten Semarang mengadakan lomba cipta puisi dan cerita. Dan akan diseleksi tingkat sekolah terlebih dahulu, kegiatan ini diadakan dalam rangka memperingati bulan bahasa ibuku sayang”.
“Ya sudah, nanti jangan lupa makan malam ya...” pesan ibuku lalu berjalan ke dapur.
Akupun mulai berpikir, cerita apa yang akan kutulis. Akupun teringat pada si Laras. Dan tik tik tik, aku mulai menulis. Sebaris, dua baris kalimat. Sehalaman, dua halaman dan seterusnya mulai memenuhi layar komputerku. Sampai akhirnya selesai dan aku beranjak tidur.
Paginya ibu membangunkanku. Aku bergegas mandi, sholat, siap-siap berangkat ke sekolah. Selesai sarapan aku pamitan sama bapak dan ibu. “ Fe berangkat dulu, Assalamu’alaikum”. Aku mencium tangan bapak ibu. “Wa’alaikum salam, hati-hati”, jawab mereka serentak.
Bergegas aku turun dari rumah dan kulihat Laras menenteng termos dan membawa baki penuh makanan.
“Sini Ras, aku bawakan termosnya”, tawarku sama Laras.
“Tapi berat mbak”.
“Kamu aja bisa, masa aku nggak sih”. Kamipun berjalan bersama.
Sampai di persimpangan jalan di sawah,
“Aku lewat sawah aja Mbak Fe, biar lebih dekat, makasih ya udah dibantuin”, kata Laras.
Aku mengangguk, terus melanjutkan jalan sampai pertigaan jalan tempatku  menunggu angkot.
Dua minggu kemudian, di hari Senin dilaksanakan upacara bendera. Sampailah pada acara pengumuman-pengumuman.
“Pengumuman hasil lomba cipta puisi dan menulis cerita dalam rangka memperingati bulan bahasa tahun 2013”. Suara pembawa acara bergema.
Untuk lomba cipta puisi, jauara 3 diraih oleh Aditya kelas 10 A, juara 2 diraih oleh Cyndi kelas 11 IPS2, dan 1 diraih oleh Anyndya kelas 11 IPA1”.
Selanjutnya diumumkan hasil lomba menulis cerita oleh pembawa acara, “juara 3 diraih oleh Purnomo kelas 12 IPA 2 dengan judul Pahlawan dari Sebrang, juara 2 diraih oleh Anisa kelas 12 Bahasa dengan judul Cinta Di Putih Abu-abu, dan juara pertama dimenangkan oleh Fenita kelas 11 IPA 2 dengan judul Laras Si Pejuang Cilik”. Teman-temanku bersorak, dan aku melompat kegirangan.
          Sampai di rumah aku langsung menghambur ke dapur mencari ibu.
 “Ibu...ibu... “ aku memanggil-manggil ibu.
“Ada apa sih, anak ibu kegirangan banget”, sela ibuku. Aku menubruk ibu, “Ibu, Laaras Si Pejuang Cilik” dapat juara I bu, dan aku akan diikutkan
dalam lomba menulis cerita di PERPUSDA Kab. Semarang”, aku nyerocos saking gembiranya.
“Apa maksudnya, ibu bingung dehc”.
“Aku kan ikut lomba menulis cerita, aku dapat inspirasi dari ketegaran hidup Laras Bu, dan Alhamdulillah menang di sekolah bu”.
          “oooh begitu rupanya, ibu juga punya cerita tentang Fenita Pahlawan Hati Dari Kampung Cikarang”, ibu bercanda.
          “A aah Ibu bisa saja dehc”, akupun memeluk ibuku.
          “Assalamu’alaikum, mbak Fe aku dapat juara cipta puisi yang kemaren”, Laras datang ke rumahku dengan penuh kegembiraan.
          “ Wa’alaikum salam, oh ya? kami turut gembira Ras, terus semangat ya..., terus belajar dan belajar lagi, jangan pernah berhenti mengejar mimpimu!
Jadilah Laras si pejuang cilik, menjadi sumber inspirasi.

----------  selesai  ----------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar